Kegiatan


Tren Keterlibatan Perempuan pada Jaringan Teror, dari Jihad Shogir ke Kabir

Jakarta, FKPT Center - Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayor Jenderal (TNI) Hendri Paruhuman Lubis,  mengatakan tren keterlibatan perempuan pada jaringan teror terus menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Dari sebelumnya hanya bersifat suporter hingga pelaku aktif di lapangan. 
 
"Dalam bahasa mereka (kelompok teror, Red.) istilahnya dari jihad shogir ke jihad kabir," kata Hendri pada pembukaan diskusi online bertajuk 'Perempuan Melawan 2 Virus Mematikan: Covid 19& Radikalisme', Selasa (23/6/2020). 
 
Dalam catatan BNPT, lanjut Hendri, keterlibatan perempuan pada jaringan teror secara samar mulai terdeteksi sejak Nur Munawaroh diketahui menyembunyikan gembong terorisme Noordin M. Top, hingga aksi nyata Dunian Yulia Novi yang ditangkap sesaat sebelum aksi peledakan Istana Negara. Puncaknya, terjadi di tahun 2019 ketika terjadi aksi peledakan bom oleh sekeluarga di Surabaya dan Sibolga, Sumatera Utara. 
 
"Tahun 2020 sendiri, di tengah pandemi ini, masih ditemukan keterlibatan perempuan pada jaringan teror. Dalam penangkapan oleh Densus 88 baru-baru ini di Sidotopo, Sidoarjo, Jawa Timur, seorang perempuan ikut diamankan," ungkap Hendri. 
 
Secara angka Hendri menyebut tren keterlibatan perempuan pada jaringan teror terus menunjukkan gejala peningkatan,  yaitu sebanyak 13 orang di tahun 2018 menjadi 15 orang di tahun 2019. "Di sinilah urgensi diskusi ini dilaksanakan. Kenapa perempuan itu mau terlibat di jaringan teror, apa yang mereka lakukan saat pandemi ini, dan bagaimana mengatasinya, semoga akan ada saran masukan yang tepat agar penanggulangan terorisme di Indonesia semakin baik," pungkasnya. 
 
Sekretaris Jenderal Asian Muslim Action Network (AMAN), Ruby Kholifah, yang hadir sebagai pemateri memaparkan, ada 3 cara bagaimana kelompok pelaku terorisme memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk turut menyebarluaskan pemahaman yang diyakininya. Pertama, mereka mencoba merusak kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah. 
 
"Mereka akan bermain di isu kegagalan pemerintah mengatasi pandemi sehingga menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat," kata Ruby. 
 
Cara kedua, masih kata Ruby, ketika isu kegagalan penanganan pendemi sudah dimainkan mereka akan lanjut pada permainan isu-isu lama seperti korupsi, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial. "Biasanya semua akan didemostrasikan sebagai tanda-tanda kedatangan hari kiamat sehingga umat harus segera bersatu mendukung tegaknya kekhilafahan global. Ujung-ujungnya adalah pada tujuan mendirikan negara di dalam negara," tegasnya. 
 
Cara ketiga adalah melakukan pendekatan terhadap kelompok resiko tinggi terdampak Covid-19, antara lain masyarakat miskin dan termarjinalkan. Cara-cara ini termasuk yang dilakukan dengan menggunakan sarana media sosial, seperti yang terdeteksi terjadi di Nigeria, Libia, Yaman, dan Pakistan. 
 
Sementara Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo, Prof. Ani M. Hasan, pada kegiatan yang sama mengatakan, peran perempuan dalam menanggulangi Covid-19 di tengah pandemi bisa dimulai dari sekedar menjadi satpam hingga dokter bagi keluarga. Sebagai satpam seorang perempuan harus sigap menanyakan kepada setiap anggota keluarga dari mana dan dengan siapa aktifitasnya di luar rumah, untuk senantiasa mewwaspadai penyebarluasan virus. 
 
"Sementara sebagai dokter perempuan harus sigap menyediakan empon-empon, obat-obatan hingga mengenali setiap golongan darah anggota keluarganya, sehingga ketika terjadi hal-hal penting bisa segera melakukannya," kata Ani. 
 
Untuk pencegahan penyebarluasan ideologi radikal, masih kata Ani, perempuan sebagi ibu dalam rumah tangga perlu meningkatkan peran pengawasan terhadap anak-anaknya, khususnya dalam pemanfaatan internet untuk kepentingan belajar dan bekerja. "Kita harus sama-sama menjaga agar aktifitas belajar dan bekerja di rumah yang banyak memanfaatkan internet tidak disusupi ideologi radikal oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya. [shk/shk]