Kegiatan


'Agar Perempuan Tidak Hanya Jadi Korban, tapi Juga Menyembuhkan

Serang, FKPT Center - BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Banten, Rabu (22/7/2020), menggelar Dialog Perempuan Agen Perdamaian. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membentengi perempuan dari potensi menjadi korban terorisme, sekaligus mendorong agar dapat menyembuhkan ketika ada anggota keluarganya yang terpapar. 
 
Kegiatan ini dilaksanakan di Serang, melibatkan 90 orang perempuan dari 30 organisasi kewanitaan yang ada di Banten. Hadir sebagai pemateri di kegiatan ini antara lain Ketua FKPT Banten, KH. Amas Tadjudin, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung, dan pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (USUSIA), Khariroh. 
 
"Banten menjadi yang pertama kembali melaksanakan kegiatan pencegahan terorisme di tengah pandemi ini. Oleh karena itu kami ingatkan agar peserta selalu menjaga jarak, jangan lupa pakai masker, dan jangan lelah cuci tangan," kata Amas Tadjudin. 
 
Amas juga mengatakan, perempuan menjadi target khusus pencegahan terorisme karena potensi keterpaparan yang sangat besar. Akan tetapi perempuan juga disebutnya memiliki potensi yang sama besar untuk menjadi pelindung, sehingga harus diberdayakan.  "Terutama di lingkungan keluarga, perempuan tidak hanya harus bisa membentengi dirinya sendiri, tapi juga membentengi anggota keluarganya," tegasnya.
 
Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT,  Andi Intang Dulung, dalam paparannya mengungkapkan, tren keterlibatan perempuan pada aksi terorisme terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika sebelum-sebelumnya hanya bersifat pasif, dalam beberapa tahun terakhir sudah ditemukan adanya keterlibatan aktif sebagai pelaku bom bunuh diri. 
 
"Keterlibatan perempuan sendiri sudah ada sejak lama, tapi dulu pasif. Di antaranya Putri Munawaroh yang ikut andi menyembunyikan Noordin M Top.  Belakangan tidak lagi pasif, tapi sudah ikut ngebom seperti di Surabaya dan Sibolga," tutur Andi Intang. 
 
Dalam catatan BNPT, lanjut Andi Intang, angka keterlibatan perempuan dalam kasus teroris terus meningkat. "Tahun 2018 ada 13 kasus, meningkat jadi 15 kasus di tahun 2019," tambahnya. 
 
Pada kegiatan itu dipaparkan juga hal-hal yang menyebabkan perempuan rentan terpapar ideologi radikal dan terlibat aksi terorisme. Antara lain masih kentalnya anggapan perempuan berada pada psosisi lemah dan harus patuh kepada lelaki, kepatuhan (ta'lit) buta,  rendahnya kemampuan meliterasi diri pada saat bermedia sosial, dan rendahnya pemahaman agama. 
 
"Satu lagi adalah sifat dasar bahwa perempuan memiliki potensi ledakan yang lebih besar dibandingkan lelaki. Ketika perempuan sudah teradikalisasi, dia bisa lebih berbahaya dari lelaki sekalipun," ujar Andi Intang. 
 
Atas dasar itu, Andi Intang mendorong perempuan agar tak lelah memperluas pengetahuan dan jejaring pergaulan yang aman. Hal ini penting agar perempuan dapat membentengi dirinya dari potensi keterpaparan ideologi radikal. "Satu lagi, jika ingin memperdalam ilmu agama pastikan dari sumber yang benar. Carilah ulama atau ustadz yang moderat yang mengajarkan bagaimana bertoleransi terhadap sesama," tandasnya. 
 
Pada kesempatan yang sama juga disampaikan potensi perempuan untuk dapat menyembuhkan seseorang dari keterpaparan ideologi radikal terorisme.  Dalam paparannya Andi Intang mencontohkan kasus 3 orang perempuan di Depok, Jawa Barat, yang suaminya ditangkap karena terlibat terorisme, namun akhirnya bisa bertaubat berkat peran istri-istrinya. 
 
"Intinya pada komunikasi, pendekatan dari hati ke hati. Perempuan memiliki kemampuan itu. Atas dasar itulah kami dorong perempuan untuk mau menjadi agen perdamaian, agar tidak hanya mampu membentengi dirinya sendiri, tapi juga melindungi dan menyembuhkan lingkungannya," pungkas Andi Intang. [shk/shk]