Kegiatan


Ada Puluhan Ribu Media di Indonesia, Memilih Berita Harus Selektif

Kupang, FKPT Center - BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Nusa Tenggara Timur, Rabu (22/7/2020), menggelar kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia'. Kegiatan yang bertujuan untuk meliterasi masyarakat dari paparan ideologi radikal terorisme tersebut mengungkap pentingnya berlaku selektif dalam memilih dan memilah berita.
 
Kegiatan ini diikuti menghadirkan aparatur kelurahan dan desa se-Kota Kupang dan sekitarnya, meliputi Kepala Desa/Lurah, Bhabinkamtibmas dan Babinsa. 
 
"Bapak dan ibu yang hadir sebagai peserta di sini adalah representasi dari masyarakat. Jadi materi apa yang nanti  disampaikan narasumber mohon diteruskan kepada masyarakat seluas-luasnya, agar kita semua dapat terhindar dari pengaruh ideologi radikal terorisme," kata Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Nusa Tenggara Timur, Imanuel Lodja. 
 
Mantan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, dihadirkan sebagai pemateri utama di kegiatan tersebut. Ia membuka paparannya dengan data jumlah media massa pers di Indonesia, yaitu 2.000 media cetak, 43.000 media dalam jaringan (online), 674 stasiun radio, dan 523 televisi. 
 
"Bisa dikatakan keberadaan media seperti home industry. Semua orang bisa membuat media dengan mudah," kata Yosep. 
 
Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo biasa disapa, menambahkan bahwa banyaknya jumlah media massa pers tersebut tidak didukung dengan kemampuan jurnalistik yang baik pada pendiri maupun awak redaksi yang mengelolanya.  "Inilah salah satu penyebab banyaknya hoax atau berita bohong. Banyak orang bisa membuat media padahal tidak memiliki pengetahuan jurnalistik, sehingga produk pemberitaan yang dihasilkannya  lebih banyak menyesatkan," tambahnya. 
 
Ironisnya, berita-berita yang tidak sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik tersebut bisa dengan mudah tersebar luas dan diterima masyarakat apa adanya. Hal ini yang kadang memicu permusuhan, meruncingkan kebencian, dan memupuk benih-benih perpecahan. 
 
"Mereka yang mengelola media namun tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang jurnalistik, sering tak sadar produk  pemberitaannya ditunggangi kepentingan yang memecah belah bangsa. Pada akhirnya masyarakatlah yang menjadi korban," jelas Stanley.  
 
Untuk mencegah terjadinya pertikaian di masyarakat, Stanley mendorong sikap kritis dan selektif masyarakat terhadap setiap produk pemberitaan yang diterimanya, khususnya yang disebarluaskan lewat media sosial. Cek dan ricek kebenaran berita, menguji kredibilitas media penggunggah berita, dan memperluas wawasan adalah hal-hal yang bisa dilakukan. 
 
"Terakhir ketika kita ingin menyebar ulang sebuah berita, pastikan menyaringnya terlebih dahulu. Takar kebenaran berita dan manfaatnya ketika kita menyebar berita itu," tuntas Stanley. [shk/shk]